jurnal ledalero

informasi: ACUAN Jurnal Ledalero: Wacana Iman dan Kebudayaan Edisi Juni 2018

Akhir-akhir ini fenomena radikalisme dan atau gerakan radikal telah mengusik rasa persatuan kita sebagai bangsa dan negara. Radikalisme merupakan aliran yang hendak mendorong perubahan revolusioner di bidang sosial, budaya, ekonomi dan politik; perubahan tersebut tidak bisa dijalankan hanya dengan memberikan koreksi gradual terhadap tatanan yang ada. Perubahan tersebut mesti bersifat “drastis”, yaitu bahwa dasar tatanan yang ada secara keseluruhan diganti dengan dasar yang sama sekali baru. Umumnya radikalisme menyata dalam konteks pandangan keagamaan dan politik.
Fenomena Radikalisme tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengacu pada ajaran dogmatis suatu agama. Hal ini perlu ditegaskan terkait dengan stigmatisasi yang selalu dilekatkan pada Islam bahwa Islam pada dirinya sendiri memiliki tendensi menjadikan agama yang “radikal”. Sejarah setiap agama memperlihatkan bahwa agama-agama bukanlah suatu Blok monolitik. Pluralitas internal merupakan ciri-ciri dasa setiap agama.
Paham dan gerakan radikal mempunyai tujuan yang berbeda. Ada yang sekedar memperjuangkan implementasi Hukum Agama tanpa harus mendirikan “negara Agama”, namun ada pula yang memperjuangkan berdirinya “negara agama”. Untuk mencapai perubahan yang diinginkan kaum radikal tak segan-segan menggunakan sarana paksaan atau kekerasan (Al-Qaeda und ISIS, Ekstrim kanan seperti Neonazi di Jerman, Ekstrim Kiri seperti aliran komunis).
Bagaimana masyarakat demokratis menyikapinya? Beberapa langkah politik telah diambil oleh pemerintah dan DPR: Perpu Pembubaran Ormas radikal ditetapkan menjadi Undang-Undang. Tentu saja langkah politis semacam itu penting. Namun yang tak kalah pentingnya adalah diskurs terbuka mengenai fenomen radikalisme dengan tujuan untuk membedak pemikiran ideologis kaum radikal. Diskurs kritis-terbuka tentang fenomen radikalisme dan – lebih penting lagi - dengan mereka yang mengambil posisi radikal menjadi urgen dan penting. Sebab yang kita hadapi adalah tidak saja gerakan radikal melainkan cara pikir radikal.
Seseorang dikatakan sebagai radikal bukan karena ia meyakini suatu kebenaran dan menata hidupnya sesuai dengan kebenaran itu, melainkan juga orang yang menuntut agar kebenaran yang diyakininya harus menjadi dasar penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Sejauh pendirian ini ditopang oleh keyakinan religius, ide negara-agama (Khilafah) menjadi opsi; sejauh ditopang oleh klaim kebenaran sekular, ide tentang negara totaliter menjadi pilihan.
Paham radikal dicirikan oleh tendensi Alternativ-Radikalisme, yaitu upaya merubah dan menggantikan tatanan yang ada dengan tatanan yang baru sama sekali. Perubahan yang ditandai oleh koreksi bertahap terhadap tatanan yang ada ditolak. Sementara kebanyakan orang modern mampu mengampil sikap kompromi, seorang fanatik-radikal cenderung berkeinginan dan berusaha melenyapkan tatanan yang ada dan digantikan dengan tatanan baru atas dasar suatu kebanran keyakinan mereka sendiri. Sejauh kaum radikal berkeinginan menggantikan dasar negara Pancasila yang mereka klaim sebagai „tatanan kafir“, paham radikal merupakan tantangan bagi negara dan perdamaian.
Paham radikal termanifestasi dalam skema kawan-lawan, “yang beriman-yang kafir” dengan tujuan ganda: menjaga homogenitas kelompok sendiri di satu pihak dan membangkitkan emosi massa untuk bersatu melawan musuh bersama. „Kaum kafir“ ditengarai sebagai pihak yang berpaling dari jalan yang benar dan bersekutu dengan kekuatan jahat, hal mana dipandang sebagai sebab utama keruntuhan moral suatu peradaban dan mesti dianggap sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Aksi kekerasan dan pembunuhan merupakan konsekuensi logis dari paham radikal.
Umumnya, motiv utama radikalisme agama bercorak politis dan ekonomis. Dengan cara pikir “kawan-lawan” para politisi yang bersekutu dengan kaum radikal tak segan-segan memainkan isu sara tanpa peduli akan dampaknya bagi kesatuan bangsa dan negara. Dan biasanya pola pikir seperti ini amat rentan untuk dimanfaatkan secara politis terutama pada saat perhelatan politik seperti pemilu atau Pilkada. Kekuasaan menjadi prioriras, perdamaian urusan belakangan.
Jurnal Ledalero Edisi Juni hendak menggumuli problematika fenomena Radikalisme dengan beberapa pertanyaan sebagai titik tolak: Faktor-faktor manakah yang mendorong kebangkitan kembali agama di arena politik global; faktor manakah yang mendorong tendensi politisasi agama; Peran manakah yang dimainkan oleh proses Globalisasi bagi pembentukan paham radikal. Faktor-faktor manakah yang berperan menyuburkan paham radikal serta gerakan radikal?

Tema ini menjadi aktual dan diharapkan bisa digodok secara interdisipliner sesuai dengan kompetensi bidang keilmuan masig-masing penulis (Ilmus Sosial, Teologi, dan Filsafat)

Sub-Sub Tema:
• Merumuskan Peran Publik Agama dalam Masyarakat Plural
• Antara Radikalisme Agama dan Fundamentalisme Pasar (Jihadisme vs Mcdonalisasi?)
• Populisme dan Radikalisme Agama