EDITORIAL - TOLAK TIPU, LAWAN LUPA: PEMBANTAIAN MASSAL 1965-1966

John Mansford Prior

Abstract


Waktu duduk di bangku SMP/SMA (1958-1963), sejarah politik masih disoroti dari perspektif para penguasa seperti kaisar dan raja, presiden dan perdana menteri. Dan memang pada masa itu penuturan sejarah politik sering digariskan oleh pihak yang berkuasa, pihak yang menang. Tapi, ketika mempelajari sejarah sosial di sekolah yang sama, kami diantar ke dalam getir gerak rakyat yang tertekan-tertindas, seperti pemberontakan kaum tani pada abad ke-13, urbanisasi besar-besaran pada abad ke-18, tuntutan serikat-serikat buruh dan pendirian koperasi kredit perdana pada abad ke-19, dan pembentukan Partai Buruh pada awal abad ke-20. Gurunya lain-lain; jelas juga pelajaran yang satu mempertanyakan pelajaran yang lain. Sejarah sosial mengikis kehebatan para raja sambil memperdepankan posisi rakyat biasa, dengan segala hasrat, strategi dan taktik juangnya. Dalam bahasa Alkitab: bukan sejarah dari perspektif raja Daud dan Solomo (sudut Deuteronomistik), tetapi sejarah sebagaimana disoroti nabi Amos, Hosea dan Yesaya (pihak nurani rakyat). Sebetulnya, sebagian besar sejarah masyarakat Allah dalam Alkitab ditulis dari pihak rakyat yang kalah.

Tentu Bupati, Gubernur dan Presiden main peran dalam masyarakat. Namun, sejarah lebih teranyam oleh rupa-rupa kisah dari masyarakat biasa. Maka timbul pertanyaan: kajian sosial dan analisis politik mestinya dinilai dari pihak mana, pihak siapa? Pihak yang berkuasa atau pihak rakyat yang dikuasai? Bisakah kita menulis kembali sejarah NTT, umpamanya, dari sisi mereka yang kalah, bahkan dari perspektif mereka yang pernah disingkirkan, mereka yang dikalahkan, dibisukan, dan selama ini dilupakan? Sanggupkah kita menolak tipu dan melawan lupa dan membaca ulang sejarah kita dengan nurani rakyat yang murni?

Pada tahun 2012 sutradara Joshua Openheimer menayangkan film Jagal. Selama dua jam penuh sejumlah pelaku premen dengan bangga merekonstruksi pembunuhan-pembunuhan yang mereka lakukan pada tahun 1965/1966 “atas nama negara”. Para psikolog menyatakan bahwa manusia mampu membunuh sesamanya hanya jika sasarannya sudah distigmatisasi dan di-dehumanisasi.

Manusia tidak bisa membunuh sesamanya begitu saja, akan tetapi kita siap menghabisi obyek-obyek dan benda-benda yang kotor lagi najis, rela melibatkan diri dalam aksi “pembersihan lingkungan”. Nyatanya, pemutaran film Jagal berhasil membuka tabir yang selama lima puluh tahun menutup peristiwa pembantaian tragis-brutal tahun 1965/1966 dari ingatan kita, dari memoria bangsa kita. Jelas, sejarah resmi tahun 1960an disusun oleh para pemenang, oleh Orde Baru, bukan oleh mereka-mereka yang dikorbankan supaya Suharto bisa naik tahta. Mana ada buku sekolah yang mengingatkan kita bahwa rezimnya dikonsolidasikan dalam lautan darah, dan didirikan di atas jenazah ratusan ribu korban.

Full Text:

PDF


DOI: http://dx.doi.org/10.31385/jl.v14i1.6.3-10

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Flag Counter Creative Commons License
Copyright© 2015 JURNAL LEDALERO This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

Ledalero Catholic School of Philosophy Jalan Trans Maumere-Ende - Sikka - Flores - Nusa Tenggara Timur - Indonesia Telp/Fax: 0382 2426535