Jurnal Ledalero http://ejurnal.stfkledalero.ac.id/index.php/JLe <p><strong>JURNAL LEDALERO, Wacana Iman dan Kebudayaan <em>(Discourse on Faith and Culture) </em> diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero - Maumere - Flores - NTT. JURNAL LEDALERO terbit dua kali setahun, yakni pada setiap Juni dan Desember. Di dalamnya dimuat artikel hasil penelitian atau kajian analitis-kritis dalam bidang ilmu filsafat dan teologi, serta ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, politik, bahasa, antropologi, seni, dan budaya. </strong></p> <p>Telah memiliki ISSN :</p> <p>Versi Cetak : 1412-5420</p> <p>Versi Online: 2503-4316</p> Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero en-US Jurnal Ledalero 1412-5420 LIFE LIVED IN LOVE: KONSEP JÜRGEN MOLTMANN MENGENAI ESKATOLOGI PRIBADI | LIFE LIVED IN LOVE: JÜRGEN MOLTMANN’S CONCEPT ON PERSONAL ESCHATOLOGY http://ejurnal.stfkledalero.ac.id/index.php/JLe/article/view/132 <b>Abstract</b> This article will focus on describing Moltmann’s view of personal eschatology, which includes his view on death, the intermediate state, the resurrection of the dead, and eternal life. The main thesis of this article is that Moltmann’s view of personal eschatology is more relevant and applicable to the Christian life here and now. At the end of this article, the author will give two applications of Moltmann’s doctrine of personal eschatology. First, Moltmann’s view of personal eschatology motivates Christians, that they must live their lives in love, hope, and faith, for they already have been resurrected and given eternal life, here and now. Secondly, Moltmann’s focus on the new earth and new heaven in this world, more than life after death and the traditional concepts of heaven and hell, should make Christians care about this world and the life in it. <b>Keywords:</b> Jürgen Moltmann, Personal Eschatology, Death, Intermediate State, Resurrection of the Dead, Eternal Life. <b>Abstrak</b> Artikel ini terfokus pada deskripsi pandangan Moltmann tentang eskatologi pribadi, yaitu mengenai kematian, keadaan peralihan, kebangkitan orang mati, dan kehidupan kekal. Tesis utama artikel ini ialah pandangan Moltmann tentang eskatologi pribadi yang lebih relevan dan berlaku untuk kehidupan Kristen di sini dan saat ini. Pada akhir artikel ini, penulis memberikan dua aplikasi dari doktrin Moltmann tentang eskatologi pribadi, yaitu: Pertama, pandangan Moltmann tentang eskatologi pribadi memotivasi orang Kristen supaya menjalani hidup mereka dalam cinta, harapan, dan iman, karena mereka sudah dibangkitkan dan diberikan jaminan kehidupan kekal. Kedua, pandangan Moltmann mengenai bumi dan surga baru di dunia ini yang lebih dari kehidupan setelah kematian dan konsep-konsep tradisional tentang surga dan neraka, membuat orang Kristen peduli terhadap dunia dan kehidupan di dalamnya. <b>Kata kunci:</b> Jürgen Moltmann, Eskatologi Pribadi, Kematian, Kebangkitan Orang Mati, Kehidupan Kekal Jessica Novia Layantara Copyright (c) 2018 Jurnal Ledalero 2018-12-02 2018-12-02 17 2 139 158 10.31385/jl.v17i2.132.139-158 POSISI PENTING ORANG DIFABEL DALAM MASYARAKAT | THE IMPORTANT PLACE OF PEOPLE WITH DISABILITIES IN SOCIETY http://ejurnal.stfkledalero.ac.id/index.php/JLe/article/view/149 <b>Abstract</b> Making use of the haecceitas theory of Duns Scotus, this text critiques the statement that every person, and in fact everything created, and especially people with disabilities, have an individual uniqueness. This is based upon the uniqueness of the Triune God who is relational. “Normal” people have self control, can decide and make personal choices. They can stand on their own two feet, and they are not dependent on others. The individuality or personality of a disabled person is often reduced because the disabled person is regarded as one who cannot do “normal” activities without assistance. All living creatures are relational beings because they have been created by and in God who is relational. The Church witnesses, in the Athanasian Creed, to the belief that the Triune God is Three separate Persons while being One in Essence. <b>Keywords:</b> Disability, Uniqueness, Personality, Trinity <b>Abstrak</b> Dengan menggunakan teori haecceitas dari Duns Scotus, tulisan ini hendak mengulas kenyataan bahwa setiap manusia bahkan setiap ciptaan, secara khusus orang dengan disabilitas, memiliki ke-ini-an masing-masing yang bersumber dari ke-ini-an Allah Trinitas yang relasional. Seorang manusia yang ‘normal’ adalah orang yang menguasai diri, dapat memutuskan dan menentukan pilihan bagi diri, mandiri, dan tidak bergantung kepada orang lain. Individualitas ataupun kepribadian orang dengan disabilitas sering direduksi karena orang dengan disabilitas dianggap tidak dapat melakukan aktivitas secara ‘normal’ tanpa dibantu orang lain. Seluruh makhluk hidup adalah makhluk yang relasional karena diciptakan oleh dan dalam Allah yang relasional. Gereja menyaksikan iman, melalui Pengakuan Iman Athanasius, bahwa Allah Trinitas tidak bercampur dalam Tiga Pribadi (persona) dan tidak terpisah dalam Esensi-Nya (substantia). <b>Kata kunci:</b> Disabilitas, Ke-ini-an, Kepribadian, Komuni, Trinitas Novriana Gloria Hutagalung Copyright (c) 2018 Jurnal Ledalero 2018-12-02 2018-12-02 17 2 159 176 10.31385/jl.v17i2.149.159-176 ILMU-ILMU SOSIAL DAN TEOLOGI KONTEKSTUAL | SOCIAL SCIENCES AND CONTEXTUAL THEOLOGY http://ejurnal.stfkledalero.ac.id/index.php/JLe/article/view/150 <b>Abstract</b> This text describes the connection between the social sciences and contextual theology. The social sciences investigate the way people relate in society via various institutions and structures, which facilitate relationships in the economic, cultural and political spheres.The social sciences also investigate the way human beings relate to nature for two reasons, namely to defend themselves against the power of nature, and also to enable them to benefit from nature. Systematic theology studies the relationship between God and humanity in light of revelation and faith. Contextual theology investigates to what extent human institutions and structures, interpersonal relationships and the relationship between humanity and nature, become a help or a hindrance to expressing faith in the Lord, and to listening to what is said by God in God’s revelation to humankind. <b>Keywords:</b> Social Sciences, Contextual Theology, Society, People, Institution, Humanity, Relationship, Lord, Structures. <b>Abstrak:</b> Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara ilmu-ilmu sosial dan teologi kontekstual. Ilmu-ilmu sosial menyelidiki hubungan manusia dengan manusia dalam masyarakat melalui berbagai institusi dan struktur yang memungkinkan dan memudahkan hubungan itu dalam ekonomi, kebudayaan, dan politik. Ilmu-ilmu sosial juga meneliti hubungan manusia dengan alam dalam kaitannya dengan dua tujuan, yaitu mempertahankan diri terhadap kekuatan alam, dan memanfaatkan alam untuk keperluan hidupnya. Di sini teknologi dan ekonomi memainkan peranan yang menentukan. Teologi sistematik meneliti berbagai aspek relasi Tuhan dengan manusia melalui wahyu serta relasi manusia dengan Tuhan melalui iman. Teologi kontekstual meneliti sejauh mana institusi dan struktur yang dibangun manusia, baik dalam relasi antar-manusia maupun dalam relasi manusia dan alam, menjadi fasilitas atau hambatan baginya dalam menyatakan iman kepada Tuhan, dan dalam mendengarkan apa yang disampaikan Tuhan dalam wahyu-Nya kepada manusia. <b>Kata kunci:</b> Ilmu Sosial, Teologi Kontekstual, Masyarakat, Manusia, Institusi, Kemanusiaan, Hubungan, Tuhan, Struktur Ignas Kleden Copyright (c) 2018 Jurnal Ledalero 2018-12-02 2018-12-02 17 2 177 202 10.31385/jl.v17i2.150.177-202 ESKATOLOGI ISLAM SHIA: ESKATOLOGI DUA DIMENSI | SHIA ISLAMIC ESCHATOLOGY: A TWO DIMENSIONAL ESCHATOLOGY http://ejurnal.stfkledalero.ac.id/index.php/JLe/article/view/146 <b>Abstract</b> This paper explains an Islamic eschatology according to Shia, and suggests that []Shia eschatology always has two dimensions – religion and politics – and the two dimensions are inseperable. Discussion surrounding Shia eschatology in this paper is particularly focused on the Mahdism concept and the figure of Mahdi. This paper is thus not intended to make a generalisation about ‘Islamic eschatology’ as if there were only one type of Islam with a single understanding of eschatology. Most Indonesian Muslims are of Sunni type of Islam, and may not share the viewpoint of Shia at all concerning eschatology. The key purpose of this paper is rather to explore one version of understanding of eschatology within Islam in order to provoke further reflection on other perspectives on eschatology. <b>Keywords:</b> Eschatology, Islam, Politics, Religion, Shia, Sunni, Prophet Muhammad, Mahdism, Mahdi <b>Abstrak</b> Tulisan ini menjelaskan sebuah eskatologi Islam menurut Shia, dan mengusulkan bahwa versi eskatologi Shia selalu memiliki dua dimensi – agama dan politik – dan keduanya tak terpisahkan. Pembahasan mengenai eskatologi Shia dalam tulisan ini khususnya berfokus pada konsep Mahdisme dan figur Mahdi, menurut versi Islam Shia. Maka tulisan ini tak dimaksudkan untuk membuat generalisasi mengenai ‘eskatologi Islam’ seolah ada hanya satu jenis Islam dengan pemahaman tunggal mengenai eskatologi. Kebanyakan kaum Muslim Indonesian adalah penganut Sunni, dan barangkali samasekali tak sependapat dengan pandangan Shia tentang eskatologi. Tujuan utama tulisan ini sebetulnya untuk menjelaskan satu versi pemahaman eskatologi dalam Islam agar memprovokasi refleksi lebih lanjut tentang perspektif-perspektif lain terkait eskatologi. <b>Kata-Kata Kunci:</b> Eskatologi, Islam, Politik, Agama, Shia, Sunni, Nabi Muhammad, Mahdisme, Mahdi. Justin L Wejak Copyright (c) 2018 Jurnal Ledalero 2018-12-02 2018-12-02 17 2 203 221 10.31385/jl.v17i2.146.203-221 EKARISTI DI MEJA PERJAMUAN ESKATOLOGI | THE EUCHARIST AT THE ESCHATOLOGICAL TABLE http://ejurnal.stfkledalero.ac.id/index.php/JLe/article/view/144 <b>Abstract</b> This text critiques the concept of eucharist-eschatology which is found in two works by local NTT artists. Using an eschatological approach and a study of the document Sacrosanctum Concilium regarding liturgy, two important messages have been identified in those works. First, solidarity is an effort to share. This virtue is primarily seen in the attitude of God who left His/Her grandeur and took on the form of a human being. Second, the act of giving as a form of solidarity comes from an awareness of the missionary aspect of the vocation of the faithful. Via the artistic works of two local artists, the faithful are helped to consider and idealise the eschatological eucharist. These two works show the clear connection between the celebration of the eucharist in the world and the eternal eucharist, the place where humanity meets God who is both intimate but also majestic. <b>Keywords:</b> Church, Eucharist, Eschatology, Last Supper, Catechetics, Lord <b>Abstrak</b> Tulisan ini bertujuan untuk mengulas konsep ekaristi-eskatologi yang terdapat di dalam dua lukisan karya pelukis lokal NTT. Dengan menggunakan pendekatan eskatologi dan studi dokumen Sacrosanctum Concilium tentang liturgi ditemukan dua pesan penting dari dua lukisan tersebut. Pertama, solidaritas sebagai usaha untuk saling berbagi. Kebajikan ini pertama-tama tampak dalam sikap Allah yang memutuskan untuk meninggalkan keagungan-Nya dan mengambil rupa manusia. Kedua, aktus memberi sebagai bentuk solidaritas terlahir dari kesadaran akan aspek misioner dari panggilan umat beriman. Melalui karya lukis dua seniman lokal ini, umat dibantu untuk membayangkan dan mencita-citakan ekaristi eskatologi. Dua lukisan ini memperlihatkan hubungan yang jelas antara perayaan ekaristi di dunia dan ekaristi kekal, tempat manusia menjumpai Allah yang akrab sekaligus yang agung. <b>Kata-kata Kunci:</b> Gereja, Ekaristi, Eskatologi, Perjamuan Akhir, Katekese, Tuhan Ignasius Ledot Copyright (c) 2018 Jurnal Ledalero 2018-12-02 2018-12-02 17 2 222 238 10.31385/jl.v17i2.144.222-238